thumb

Green Jobs untuk Gen Z: Tidak Harus Anak Lingkungan

Published on 2026-10-15

Banyaknya kerusakan alam yang terjadi belakangan ini menarik perhatian serta meningkatkan kepedulian dan empati masyarakat terhadap kesehatan alam Indonesia. Kepedulian ini mulai timbul dan disuarakan melalui media sosial sejak banjir bandang dan tanah longsor di Sumatra akhir tahun 2025 lalu. Disusul dengan berbagai kerusakan alam lainnya membuat masyarakat semakin terdorong untuk berpartisipasi menanggulangi bencana. Termasuk Gen Z yang acapkali menyuarakan kerusakan alam melalui media sosial sebagai aksi nyata kepeduliannya. Tak hanya itu, istilah Green Jobs kini ramai dibicarakan di media sosial oleh Gen Z yang mempertanyakan bagaimana karier mereka dapat berdampak bagi lingkungan.

Konsep Green Jobs

Green Jobs atau pekerjaan ramah lingkungan merupakan pekerjaan yang berdampak pada pelestarian, perlindungan, dan pemulihan lingkungan. Dalam IG Live Bincang Bumi, editor dari National Geographic Indonesia (Ade Sulaeman) menyampaikan bahwa Green Jobs memiliki dua perspektif. Yang pertama, Green Jobs merupakan sesuatu yang muncul sebagai respons terhadap kondisi perubahan iklim seperti energi terbarukan, energi hijau, rumah ramah lingkungan, atau kemasan ramah lingkungan. Yang kedua, Green Jobs bisa merupakan pekerjaan lama yang berdampak positif terhadap lingkungan, seperti pengolahan limbah. Pekerjaan tersebut sudah ada sebelum konsep Green Jobs muncul; meski sering kali disisihkan dari jenis Green Jobs karena dinilai tidak muncul sebagai respons, tetapi dampak terhadap lingkungan yang dihasilkan oleh pengolahan limbah dapat dihitung menjadi bagian dari Green Jobs. Selain itu, jenis pekerjaan yang berbeda bidang pun dapat disebut Green Jobs dalam kondisi tertentu; yakni apabila pekerjaan tersebut menghasilkan sesuatu yang mendukung partisipasi penyelamatan bumi. Seperti jurnalis dan konten kreator yang membuat konten untuk menyadarkan publik mengenai kondisi planet ini. Memang tidak berwujud produk langsung yang dapat menyelamatkan bumi, namun dampak positifnya bagi lingkungan juga terlihat nyata, salah satunya seperti fenomena penggalangan dana untuk donasi karhutla yang dilakukan oleh berbagai aktivis dalam bentuk konten. Jadi dengan cakupan pekerjaan yang luas, selama pekerjaan tersebut menghasilkan dampak positif bagi lingkungan, maka pekerjaan itu merupakan Green Jobs. Begitu pula dengan bidang SDM, keuangan, dan komunikasi yang dapat berkontribusi sebagai Green Jobs meski tidak terjun langsung ke lingkungan.

Antara Green Jobs dan Gen Z

Hubungan antara Green Jobs dan Gen Z yang menarik bagi Ade adalah terjadinya Great Reshuffle atau pergeseran tujuan yang mana Gen Z tidak lagi mengejar uang hanya untuk memenuhi kebutuhan finansial hidupnya, melainkan mereka bekerja untuk memberikan dampak terhadap lingkungan dan sekitarnya. Dari kacamata milenial, tujuan bekerja adalah kebutuhan hidup yang pada akhirnya dapat berdampak bagi lingkungan; 70% untuk kebutuhan hidup dan 30% untuk dampak lingkungan. Sedangkan Gen Z membuat pekerjaan dan dampak terhadap lingkungan menjadi 50%-50%, sehingga terjadi perbedaan tujuan antara milenial dan Gen Z.

Bagaimana Cara Menjadi Bagian Dari Green Jobs?

Ade juga menyampaikan bahwa untuk menjadi bagian dari Green Jobs ini tidak memerlukan latar belakang yang kuat terhadap lingkungan, terutama kini acara volunteer lingkungan kerap kali diadakan dengan berbagai macam kegiatan. Namun, jika membahas lebih dalam terkait kebutuhan skill, Ade menyebutkan bidang STEM sebagai hard skill dan pola pikir 7th Generation sebagai soft skill yang dibutuhkan. Meskipun STEM di Indonesia masih dinilai kurang, tetapi bagi Ade hal itu merupakan celah ketika memiliki kemampuan STEM yang jauh dibanding rata-rata akan membuat lebih unggul sehingga memudahkan terpilih di antara masyarakat awam lainnya. Terkait 7th Generation, hal ini merupakan cara berpikir untuk melakukan apa pun yang akan berdampak tidak hanya pribadi tetapi juga lingkungan sekitar dan keseluruhan bumi. Pola pikir ini menyuruh manusia berpikir mengenai dampak dari apa yang akan dilakukan sampai 7 generasi ke depan. Sebagai contoh, krisis air diperkirakan terjadi pada pertengahan hingga akhir abad ini, ketika sejumlah wilayah bisa kehabisan air sama sekali. Jika pola penggunaan air yang boros terus berlanjut, air tidak lagi mudah didapat di masa depan. Inilah gambaran nyata dari 7th Generation Thinking: keputusan kita hari ini menentukan kondisi generasi-generasi berikutnya.

Di sisi lain, bila pengalaman masih nihil dan tidak punya keterkaitan bidang dengan lingkungan, portofolio sederhana bisa jadi pilihan. Hal yang bisa dilakukan sebagai contoh adalah “Audit Energi Mandiri”, yaitu dengan menghitung energi apa saja yang bisa diganti atau dikurangi agar lebih ramah lingkungan. Kemudian pengalaman tersebut dapat dikemas menjadi konten media sosial yang menarik dengan storytelling yang apik.

Pada akhirnya, Green Jobs tidak ditentukan oleh jurusan atau nama jabatan, melainkan oleh dampak yang dihasilkan dari pekerjaan itu. Bagi Gen Z yang sedang mempertanyakan arah kariernya, langkah awalnya tidak harus besar: pahami cara berpikir 7th Generation, mulai dari kebiasaan sederhana seperti Audit Energi Mandiri, lalu ceritakan prosesnya. Sebab jika dampak sebuah pekerjaan dilihat sampai tujuh generasi ke depan, maka setiap pilihan kecil hari ini ikut menentukan kondisi bumi yang akan diwariskan.

Sumber: IG Live Bincang Bumi (13/10/26), Host Fathia Andini dan Narasumber Ade Sulaeman.

Leave a comment


Your e-mail address won't be published. Required fields are mark *

Loading
Your comment has been sent. Thank you!