Corporate Affairs Bukan Lagi Sekadar PR, Lalu Apa yang Berubah?
Sebuah isu bisa
muncul pada pagi hari, ramai di media sosial menjelang siang, dan sudah menjadi
bahan perbincangan publik sebelum matahari terbenam. Di titik seperti itu,
menjawab pertanyaan wartawan saja jelas tidak cukup. Perusahaan dituntut
memahami apa yang sebenarnya sedang bergerak: siapa pemangku kepentingan yang
terdampak, ke mana arah opini bergeser, dan sebesar apa risikonya terhadap
reputasi serta bisnis. Inilah ruang kerja yang dulu kerap disederhanakan
menjadi “urusan PR”, padahal hari ini cakupannya jauh lebih luas, yaitu
corporate affairs.
Pergeseran ini
bukan kebetulan. Menurut studi Ocean Tomo, sekitar 90% nilai perusahaan
dalam indeks S&P 500 kini berupa aset tak berwujud seperti reputasi, merek,
dan kepercayaan, bukan lagi pabrik atau mesin. Pada saat yang sama, lanskap
komunikasi makin ramai. Indonesia tercatat memiliki sekitar 143 juta pengguna
media sosial pada awal 2025 menurut DataReportal dan We Are Social, sebuah
ruang tempat siapa pun bisa memantik sekaligus memperbesar sebuah isu.
Menariknya, di tengah derasnya arus informasi itu, kepercayaan justru
mengerucut ke lingkaran terdekat. Edelman Trust Barometer 2026 menempatkan
“tempat saya bekerja” sebagai institusi paling dipercaya dengan angka 78%, jauh di atas bisnis secara umum di 64% pemerintah di 53%.
Artinya, menjaga hubungan dan reputasi tidak bisa lagi diserahkan pada satu
corong di ujung rantai.
Dalam Instagram Live Ngobrol di CPROCOM, Sunfitri Rahayu, praktisi komunikasi dan corporate affairs
dengan pengalaman lebih dari 27 tahun, membedah bagaimana fungsi ini
berevolusi, dan kenapa ia kini duduk makin dekat dengan meja pengambilan
keputusan bisnis.
Dari Fungsi Teknis yang Terpencar Menjadi Satu Fungsi
Strategis
Corporate
affairs sebenarnya bukan hal baru. Ia fungsi lama yang dulu terpecah-pecah. Ada
yang memegang public relations, ada corporate communication, government
relation, internal communication yang menempel di HR, public policy yang
nyangkut di legal, sampai corporate strategy yang dikerjakan tim finance.
Masing-masing berdiri sendiri dan sifatnya teknis, dicantelkan ke sana-sini
mengikuti kebutuhan praktis saat itu.
Seiring
tuntutan bisnis yang kian kompleks, fungsi-fungsi tadi akhirnya disatukan di
bawah satu payung generalis bernama corporate affairs. Alasannya sederhana:
meski stakeholder-nya berbeda-beda, tujuan strategisnya satu, yakni membangun
dan mengelola reputasi agar bisnis berjalan dengan baik dan benar.
“Yang
membedakan hanya fungsi teknisnya, yaitu stakeholder yang berbeda-beda. Tapi secara stratejik, tujuannya sama,” ujar Sunfitri.
Konsekuensinya, narasi ke semua arah harus
selaras. Jangan sampai tim government relation menyampaikan pesan yang berbeda
dengan yang dibaca publik di media, atau bertabrakan dengan cara marketing PR
bicara soal produk. Di sinilah letak bedanya dengan PR.
Sunfitri mengibaratkan corporate affairs seperti dokter umum, seorang generalis
yang harus paham banyak hal sekaligus. Secara karier pun jalurnya lebih
panjang: PR biasanya mentok di level head of PR, corporate communication sampai
VP, sementara corporate affairs bisa menembus kursi direktur karena ia
melihat semuanya, dari PR, corporate communication, government relation,
public affairs, investor relations di perusahaan terbuka, hingga
sustainability.
Bukan
Corong Terakhir, Melainkan Mitra Bisnis
Perubahan paling mendasar ada pada posisinya. Corporate affairs kini diperlakukan sebagai mitra bisnis, mirip
peran HR business partner yang sudah lebih dulu lazim. Ia tidak lagi menunggu
di ujung untuk sekadar mengumumkan keputusan, tetapi dilibatkan sejak awal
ketika keputusan itu masih dirumuskan.
Sunfitri
memberi contoh yang mudah. Saat perusahaan hendak meluncurkan produk, corporate
affairs bisa membantu memetakan pemangku kepentingannya, menimbang apakah
produk itu selaras dengan norma sosial dan budaya setempat, sekaligus
menyiapkan strategi pendekatan ke pemerintah dan regulator.
“Kita
bukan sekadar corong terakhir, tapi ada di across the supply chain untuk
membantu bisnis,” katanya.
Prinsip yang ia
tekankan: jangan menunggu masalah meledak baru dipanggil. Semakin dini
corporate affairs dilibatkan, semakin besar peluang perusahaan mengantisipasi
risiko sebelum ia tumbuh menjadi krisis.
Menentukan
Siapa yang Harus Didahulukan
Pemerintah,
regulator, komunitas, pelanggan, karyawan, investor, hingga masyarakat luas,
semuanya penting. Lalu bagaimana menentukan prioritas? Menurut Sunfitri,
jawabannya selalu bergantung pada arah perusahaan. Ada rencana satu tahun, ada
strategi lima tahun, dan posisi corporate affairs harus menyesuaikan diri
dengan arah itu. Karena itulah ia perlu berada di dalam ruang pembicaraan
strategi bisnis, bukan di luarnya.
Soal cara
mendekati stakeholder, ia punya satu pengingat yang tegas: jangan
transaksional. Hubungan tidak dibangun dalam semalam, dan orang umumnya tidak
suka didekati hanya ketika ada maunya.
“Nobody
likes a transactional communication. Hubungan itu harus dibangun
berkesinambungan, menjadikan mereka benar-benar mitra, bukan cuma saat kita ada
kepentingan,” jelasnya.
Keberhasilannya
pun bisa diukur. Perusahaan biasanya punya survei tahunan, dan menurut Sunfitri
survei kepuasan pelanggan yang hanya menanyakan soal produk sudah ketinggalan
zaman. Pertanyaannya perlu dibuat lebih berdaging, menyentuh reputasi dan
loyalitas pada perusahaan di balik produk, dengan responden yang tidak acak
melainkan diarahkan ke pemangku kepentingan sasaran seperti regulator, mitra
bisnis, dan pemerintah. Kalau ingin lebih tajam lagi, ada communication audit
yang digelar berkala untuk mengecek apakah pendekatan sudah tepat dan target
sudah tercapai.
ESG
dan Sustainability: Jangan Berhenti di Pencitraan
Isu
keberlanjutan juga makin sulit dipisahkan dari corporate affairs. Idealnya,
menurut Sunfitri, ESG dan sustainability digabung ke dalam fungsi ini, sebab
publik dan investor kini menilai perusahaan bukan semata dari produk yang enak
dan kemasan yang menarik, melainkan dari bagaimana ia menjalankan tata kelola
dan menjaga keberlanjutan. Generasi muda bahkan sudah terbiasa mempertanyakan
ke mana sampah dan kemasan sebuah produk berakhir.
Di sinilah jebakan greenwashing mengintai. Sunfitri mengingatkan bahwa sustainability lahir dari misi menjaga agar produk dan jasa bisa terus bermanfaat hingga generasi mendatang, dan tanggung jawab itu membesar seiring membesarnya perusahaan. Pemberitaan yang baik boleh saja datang, tetapi ia seharusnya menjadi bonus, bukan tujuan.
Kompetensi Inti: Mendengar Dulu, Baru Bicara
Jika ada satu kompetensi yang Sunfitri tempatkan paling atas, itu adalah kemampuan mendengarkan. Ia bahkan menyebut sekitar 80% pekerjaan corporate affairs adalah mendengarkan, lalu meramu strategi dari apa yang didengar, mulai dari kebutuhan bisnis, arah perusahaan, kemauan stakeholder, sampai isu yang sedang berkembang. Kompetensi kedua, yang sering diremehkan, adalah mencintai menulis. Hari-hari seorang praktisi corporate affairs penuh dengan tulisan, dari rilis media, brief kebijakan, surat penting untuk pemerintah dan mitra, proposal, hingga pesan di tengah krisis. Baru setelah itu datang kemampuan berbicara di depan publik.
Corporate affairs di era baru bukan soal siapa yang paling pandai bicara, melainkan siapa yang paling mampu mendengar, membaca sinyal lebih awal, menentukan prioritas, lalu merespons dengan cepat sekaligus tepat. Pertanyaan yang diajukan pun bergeser. Bukan lagi “apa yang harus kita komunikasikan”, melainkan “apa yang sebenarnya sedang terjadi, apa dampaknya bagi perusahaan, dan apa yang harus kita lakukan”. Di situlah reputasi dijaga sebelum krisis datang, bukan sesudahnya, dan di situ pula perbedaan antara perusahaan yang sekadar bereaksi dengan yang benar-benar siap menjadi terlihat.
Bangun Kesiapan Corporate Affairs dan Komunikasi Bersama CPROCOM
CPROCOM mendampingi perusahaan membangun kapabilitas corporate affairs dan komunikasi secara menyeluruh, mulai dari pemetaan pemangku kepentingan, strategi komunikasi multi-stakeholder, penyusunan protokol dan standby statement krisis, pendampingan agenda ESG dan keberlanjutan, hingga pelatihan juru bicara dan tim komunikasi. Konsultasikan kebutuhan corporate affairs perusahaan Anda bersama CPROCOM di sini.
Artikel ini dikembangkan dari obrolan Ngobrol di CPROCOM bersama Sunfitri Rahayu, praktisi komunikasi dan corporate affairs dengan pengalaman lebih dari 27 tahun.
Referensi:
Ocean Tomo,Intangible Asset Market Value Study
DataReportal & We Are Social, Digital 2025: Indonesia
Leave a comment
Your e-mail address won't be published. Required fields are mark *
