thumb

Corporate Affairs Bukan Lagi Sekadar PR, Lalu Apa yang Berubah?

Published on 2026-10-05

Sebuah isu bisa muncul pada pagi hari, ramai di media sosial menjelang siang, dan sudah menjadi bahan perbincangan publik sebelum matahari terbenam. Di titik seperti itu, menjawab pertanyaan wartawan saja jelas tidak cukup. Perusahaan dituntut memahami apa yang sebenarnya sedang bergerak: siapa pemangku kepentingan yang terdampak, ke mana arah opini bergeser, dan sebesar apa risikonya terhadap reputasi serta bisnis. Inilah ruang kerja yang dulu kerap disederhanakan menjadi “urusan PR”, padahal hari ini cakupannya jauh lebih luas, yaitu corporate affairs.

Pergeseran ini bukan kebetulan. Menurut studi Ocean Tomo, sekitar 90% nilai perusahaan dalam indeks S&P 500 kini berupa aset tak berwujud seperti reputasi, merek, dan kepercayaan, bukan lagi pabrik atau mesin. Pada saat yang sama, lanskap komunikasi makin ramai. Indonesia tercatat memiliki sekitar 143 juta pengguna media sosial pada awal 2025 menurut DataReportal dan We Are Social, sebuah ruang tempat siapa pun bisa memantik sekaligus memperbesar sebuah isu. Menariknya, di tengah derasnya arus informasi itu, kepercayaan justru mengerucut ke lingkaran terdekat. Edelman Trust Barometer 2026 menempatkan “tempat saya bekerja” sebagai institusi paling dipercaya dengan angka 78%, jauh di atas bisnis secara umum di 64% pemerintah di 53%. Artinya, menjaga hubungan dan reputasi tidak bisa lagi diserahkan pada satu corong di ujung rantai.

Dalam Instagram Live Ngobrol di CPROCOM, Sunfitri Rahayu, praktisi komunikasi dan corporate affairs dengan pengalaman lebih dari 27 tahun, membedah bagaimana fungsi ini berevolusi, dan kenapa ia kini duduk makin dekat dengan meja pengambilan keputusan bisnis.

Dari Fungsi Teknis yang Terpencar Menjadi Satu Fungsi Strategis

Corporate affairs sebenarnya bukan hal baru. Ia fungsi lama yang dulu terpecah-pecah. Ada yang memegang public relations, ada corporate communication, government relation, internal communication yang menempel di HR, public policy yang nyangkut di legal, sampai corporate strategy yang dikerjakan tim finance. Masing-masing berdiri sendiri dan sifatnya teknis, dicantelkan ke sana-sini mengikuti kebutuhan praktis saat itu.

Seiring tuntutan bisnis yang kian kompleks, fungsi-fungsi tadi akhirnya disatukan di bawah satu payung generalis bernama corporate affairs. Alasannya sederhana: meski stakeholder-nya berbeda-beda, tujuan strategisnya satu, yakni membangun dan mengelola reputasi agar bisnis berjalan dengan baik dan benar.

“Yang membedakan hanya fungsi teknisnya, yaitu stakeholder yang berbeda-beda. Tapi secara stratejik, tujuannya sama,” ujar Sunfitri.

Konsekuensinya, narasi ke semua arah harus selaras. Jangan sampai tim government relation menyampaikan pesan yang berbeda dengan yang dibaca publik di media, atau bertabrakan dengan cara marketing PR bicara soal produk. Di sinilah letak bedanya dengan PR. Sunfitri mengibaratkan corporate affairs seperti dokter umum, seorang generalis yang harus paham banyak hal sekaligus. Secara karier pun jalurnya lebih panjang: PR biasanya mentok di level head of PR, corporate communication sampai VP, sementara corporate affairs bisa menembus kursi direktur karena ia melihat semuanya, dari PR, corporate communication, government relation, public affairs, investor relations di perusahaan terbuka, hingga sustainability.

Bukan Corong Terakhir, Melainkan Mitra Bisnis

Perubahan paling mendasar ada pada posisinya. Corporate affairs kini diperlakukan sebagai mitra bisnis, mirip peran HR business partner yang sudah lebih dulu lazim. Ia tidak lagi menunggu di ujung untuk sekadar mengumumkan keputusan, tetapi dilibatkan sejak awal ketika keputusan itu masih dirumuskan.

Sunfitri memberi contoh yang mudah. Saat perusahaan hendak meluncurkan produk, corporate affairs bisa membantu memetakan pemangku kepentingannya, menimbang apakah produk itu selaras dengan norma sosial dan budaya setempat, sekaligus menyiapkan strategi pendekatan ke pemerintah dan regulator.

“Kita bukan sekadar corong terakhir, tapi ada di across the supply chain untuk membantu bisnis,” katanya.

Prinsip yang ia tekankan: jangan menunggu masalah meledak baru dipanggil. Semakin dini corporate affairs dilibatkan, semakin besar peluang perusahaan mengantisipasi risiko sebelum ia tumbuh menjadi krisis.

Menentukan Siapa yang Harus Didahulukan

Pemerintah, regulator, komunitas, pelanggan, karyawan, investor, hingga masyarakat luas, semuanya penting. Lalu bagaimana menentukan prioritas? Menurut Sunfitri, jawabannya selalu bergantung pada arah perusahaan. Ada rencana satu tahun, ada strategi lima tahun, dan posisi corporate affairs harus menyesuaikan diri dengan arah itu. Karena itulah ia perlu berada di dalam ruang pembicaraan strategi bisnis, bukan di luarnya.

Soal cara mendekati stakeholder, ia punya satu pengingat yang tegas: jangan transaksional. Hubungan tidak dibangun dalam semalam, dan orang umumnya tidak suka didekati hanya ketika ada maunya.

“Nobody likes a transactional communication. Hubungan itu harus dibangun berkesinambungan, menjadikan mereka benar-benar mitra, bukan cuma saat kita ada kepentingan,” jelasnya.

Keberhasilannya pun bisa diukur. Perusahaan biasanya punya survei tahunan, dan menurut Sunfitri survei kepuasan pelanggan yang hanya menanyakan soal produk sudah ketinggalan zaman. Pertanyaannya perlu dibuat lebih berdaging, menyentuh reputasi dan loyalitas pada perusahaan di balik produk, dengan responden yang tidak acak melainkan diarahkan ke pemangku kepentingan sasaran seperti regulator, mitra bisnis, dan pemerintah. Kalau ingin lebih tajam lagi, ada communication audit yang digelar berkala untuk mengecek apakah pendekatan sudah tepat dan target sudah tercapai.

ESG dan Sustainability: Jangan Berhenti di Pencitraan

Isu keberlanjutan juga makin sulit dipisahkan dari corporate affairs. Idealnya, menurut Sunfitri, ESG dan sustainability digabung ke dalam fungsi ini, sebab publik dan investor kini menilai perusahaan bukan semata dari produk yang enak dan kemasan yang menarik, melainkan dari bagaimana ia menjalankan tata kelola dan menjaga keberlanjutan. Generasi muda bahkan sudah terbiasa mempertanyakan ke mana sampah dan kemasan sebuah produk berakhir.

Di sinilah jebakan greenwashing mengintai. Sunfitri mengingatkan bahwa sustainability lahir dari misi menjaga agar produk dan jasa bisa terus bermanfaat hingga generasi mendatang, dan tanggung jawab itu membesar seiring membesarnya perusahaan. Pemberitaan yang baik boleh saja datang, tetapi ia seharusnya menjadi bonus, bukan tujuan.

Kompetensi Inti: Mendengar Dulu, Baru Bicara

Jika ada satu kompetensi yang Sunfitri tempatkan paling atas, itu adalah kemampuan mendengarkan. Ia bahkan menyebut sekitar 80% pekerjaan corporate affairs adalah mendengarkan, lalu meramu strategi dari apa yang didengar, mulai dari kebutuhan bisnis, arah perusahaan, kemauan stakeholder, sampai isu yang sedang berkembang. Kompetensi kedua, yang sering diremehkan, adalah mencintai menulis. Hari-hari seorang praktisi corporate affairs penuh dengan tulisan, dari rilis media, brief kebijakan, surat penting untuk pemerintah dan mitra, proposal, hingga pesan di tengah krisis. Baru setelah itu datang kemampuan berbicara di depan publik. 

Corporate affairs di era baru bukan soal siapa yang paling pandai bicara, melainkan siapa yang paling mampu mendengar, membaca sinyal lebih awal, menentukan prioritas, lalu merespons dengan cepat sekaligus tepat. Pertanyaan yang diajukan pun bergeser. Bukan lagi “apa yang harus kita komunikasikan”, melainkan “apa yang sebenarnya sedang terjadi, apa dampaknya bagi perusahaan, dan apa yang harus kita lakukan”. Di situlah reputasi dijaga sebelum krisis datang, bukan sesudahnya, dan di situ pula perbedaan antara perusahaan yang sekadar bereaksi dengan yang benar-benar siap menjadi terlihat.

Bangun Kesiapan Corporate Affairs dan Komunikasi Bersama CPROCOM

CPROCOM mendampingi perusahaan membangun kapabilitas corporate affairs dan komunikasi secara menyeluruh, mulai dari pemetaan pemangku kepentingan, strategi komunikasi multi-stakeholder, penyusunan protokol dan standby statement krisis, pendampingan agenda ESG dan keberlanjutan, hingga pelatihan juru bicara dan tim komunikasi. Konsultasikan kebutuhan corporate affairs perusahaan Anda bersama CPROCOM di sini.

Artikel ini dikembangkan dari obrolan Ngobrol di CPROCOM bersama Sunfitri Rahayu, praktisi komunikasi dan corporate affairs dengan pengalaman lebih dari 27 tahun.

Referensi:

Ocean Tomo,Intangible Asset Market Value Study 

DataReportal & We Are Social, Digital 2025: Indonesia

Edelman Trust Barometer 2026

Leave a comment


Your e-mail address won't be published. Required fields are mark *

Loading
Your comment has been sent. Thank you!