Mengubah Fashion Waste Menjadi Harapan Lewat Program Waste to Wear
Sebagian besar dari kita mungkin tidak pernah benar-benar memikirkan ke
mana perginya baju yang sudah tidak dipakai. Ditumpuk di lemari, dilungsurkan
ke adik, atau disumbangkan setiap kali ada bencana. Padahal di balik kebiasaan
itu tersimpan persoalan besar yang jarang disadari, yaitu fashion waste. Dalam
obrolan Bincang Bumi bersama CPROCOM, Lukita Wardhani Setiyarso, Executive
Director Sinergi Berkelanjutan Indonesia, membedah persoalan ini sekaligus
menawarkan jalan keluar yang tidak biasa lewat program Waste to Wear.
Limbah fashion bukan masalah kecil. Menurut Ellen MacArthur Foundation,
satu truk penuh tekstil dibuang ke tempat pembuangan akhir atau dibakar setiap
detiknya, dan kurang dari satu persen material pakaian yang benar-benar didaur
ulang menjadi pakaian baru. McKinsey, lewat laporan Fashion on Climate,
mencatat industri fashion menghasilkan sekitar 2,1 miliar ton emisi gas rumah
kaca pada 2018, atau sekitar empat persen dari total emisi global. Pola
konsumsi ikut memperparah keadaan. Data UNECE menyebut orang kini membeli 60%
lebih banyak pakaian, tetapi memakainya separuh lebih singkat.
Menurut Lukita, secara global limbah kain menyumbang lebih dari sepuluh
persen sampah yang berakhir di TPA, dan setiap satu kilogram kain setara dengan
sekitar 1,4 hingga 2,4 kilogram emisi CO2. Kebiasaan melungsurkan pakaian di
Indonesia memang membantu, tetapi tren fast fashion mempercepat siklusnya. “Kalau
dulu setahun cuma ganti empat kali mengikuti musim, sekarang belum sebulan
sudah ganti tren,” ujarnya.
Ketika Limbah Bertemu
Kebutuhan
Ironi justru muncul saat bencana. Pengumpulan baju layak pakai selalu
paling banyak, tetapi tidak semuanya tersalurkan. Ukuran, bahan, dan model yang
tidak cocok membuat sebagian pakaian menumpuk di tenda dan akhirnya tidak
terpakai. “Penerima bantuan
tetap punya hak untuk memilih,” kata Lukita. Dari situ ia melihat celah. Di satu sisi ada limbah kain
yang melimpah, di sisi lain ada anak-anak korban bencana yang butuh
perlengkapan untuk kembali ke sekolah.
Dari pertemuan dua kebutuhan itu lahirlah Waste to Wear. Limbah kain
tidak sekadar dipindahtangankan, melainkan diupcycle dan didaur ulang menjadi
barang baru yang bernilai, seperti tas sekolah, tempat pensil, hingga seragam
guru. Barang-barang ini dirangkai menjadi school kit dan dikirim ke wilayah
pasca bencana, dari Aceh sampai Papua. Yang menarik, anak-anak ternyata tidak
menyukai tas yang seragam atau bermerek. Mereka lebih senang desain yang
berbeda-beda karena terasa seperti milik pribadi. “Pas diterima mereka malah
senang, ada aktualisasi, oh ini punyaku,” cerita Lukita.
Permintaannya pun cepat membesar. Dari 150 paket pertama, datang
permintaan 500, lalu menyusul NTT dan Papua, sampai tim harus berpacu
memenuhinya. Selain tas dan perlengkapan sekolah, limbah kain juga dijajaki
untuk diolah menjadi seragam guru, tas laptop, hingga serat pengisi bantal
sebagai pengganti dakron. Bagi Lukita, ruang untuk berinovasi masih sangat
terbuka, asalkan kain tidak berhenti menumpuk di TPA.
Lingkungan dan Sosial
yang Tak Terpisahkan
Bagi Lukita, program ini menegaskan bahwa isu lingkungan dan sosial tidak
bisa dipisahkan. Ia memberi contoh sederhana. Suhu bumi yang memanas membuat
orang menyalakan pendingin lebih lama, tagihan listrik naik, biaya hidup ikut
naik, dan pada akhirnya menekan kemampuan ekonomi keluarga. “Akarnya cuma
satu, yaitu manusia. Manusia yang merusak atau menjaga lingkungan,”
katanya. Karena itu,
pendekatan yang ia pilih berbasis manusia, bukan semata angka di atas laporan.
Cara pandang ini yang sering hilang ketika perusahaan membicarakan ESG.
Aspek lingkungan dan sosial kerap ditangani terpisah, padahal keduanya
berangkat dari akar yang sama. Waste to Wear menjadi contoh kecil bagaimana
keduanya bisa berjalan beriringan, mengurangi limbah sekaligus membantu manusia
yang sedang dalam kesulitan.
Membaca Pola yang Lebih
Besar
Kalau ditarik lebih jauh, cerita Waste to Wear sebenarnya menyorot
persoalan yang jauh lebih besar daripada sekadar limbah kain. Sulitnya baju donasi tersalurkan menunjukkan
bahwa Indonesia belum benar-benar punya sistem pemulihan tekstil. Selama ini
bebannya jatuh ke tangan individu dan inisiatif kecil, bukan pada sebuah rantai
daur ulang yang tertata. Menyumbang memang baik, tetapi memberi bukan
hal yang sama dengan mendaur ulang. Selama pakaian hanya berpindah tangan, ia sebenarnya cuma menunda
perjalanannya menuju TPA. Bahkan secara global, angka Ellen MacArthur yang
menyebut kurang dari satu persen material pakaian didaur ulang menjadi pakaian
baru memperlihatkan bahwa lingkaran ini nyaris tidak pernah benar-benar
tertutup.
Di banyak negara, arah kebijakan mulai bergeser ke hulu. Uni Eropa, lewat
revisi Waste Framework Directive yang berlaku sejak 2025, mewajibkan skema
Extended Producer Responsibility untuk tekstil, sehingga merek fashion ikut
menanggung biaya pengumpulan dan pengolahan limbahnya. Indonesia belum sampai
ke titik itu, dan di sinilah celahnya terlihat. Contoh yang diangkat Lukita
soal perusahaan yang membagikan seragam sampai tiga kali setahun, lalu
menyimpannya di gudang tanpa kejelasan nasib, menggambarkan bagaimana tanggung
jawab produsen masih menggantung. Padahal seiring dorongan menghitung emisi gas
rumah kaca, limbah dari barang yang mereka beli, termasuk seragam, makin sulit
dilepaskan dari tanggung jawab perusahaan.
Yang juga kerap luput, hambatan terbesar bukan cuma soal teknologi atau
modal, melainkan perilaku dan informasi. Data tentang limbah fashion di
Indonesia masih tipis, dan tanpa data, membangun kesadaran menjadi jauh lebih
berat. Karena itu langkah Sinergi Berkelanjutan Indonesia menjalankan survei
konsumen, atau gagasan menaruh dropbox di acara komunitas lari, pada dasarnya
adalah pekerjaan komunikasi. Perubahan perilaku jarang datang dari ceramah,
melainkan dari cara yang membuat orang merasa dekat dengan persoalannya. Di
titik inilah isu lingkungan berhenti menjadi urusan teknis dan berubah menjadi
urusan bersama.
Tantangan yang Tidak
Ringan
Tentu jalannya tidak mulus. Karena berbentuk bantuan, program ini tidak
menghasilkan pengembalian modal, sehingga mencari donor dan kolaborator jauh
lebih sulit ketimbang usaha yang produknya dijual. Persoalan legalitas logo perusahaan juga kerap
menahan donasi limbah seragam. Dan yang paling berat, kecepatan bencana sering
melampaui kapasitas untuk merespons. Belum selesai satu wilayah, bencana sudah
datang di tempat lain. Dari sisi komunikasi pun, data soal limbah fashion masih
terbatas, sehingga Sinergi Berkelanjutan Indonesia kini menjalankan survei
untuk memahami perilaku konsumen dalam membeli dan membuang pakaian.
Di ujung obrolan, Lukita menitipkan tiga pesan sederhana, yaitu be
responsible, be mindful, dan be creative. Mulailah dari membaca
label untuk tahu bahan pakaian yang kita beli, memikirkan ke mana barang itu
akan berakhir, dan mencari cara kreatif agar tidak langsung menjadi sampah.
Bagi produsen, ia menambahkan satu ajakan, yakni memilih material yang lebih mudah
terurai. Pesannya ditutup dengan pengingat yang mengena: jangan sampai kita
membawa tumbler ke mana-mana demi mengurangi plastik, tetapi di saat yang sama
terus membeli dan membuang baju.
Artikel ini
dikembangkan dari obrolan Bincang Bumi CPROCOM bersama Lukita Wardhani
Setiyarso, Executive Director Sinergi Berkelanjutan Indonesia, seputar program
Waste to Wear.
Referensi:
McKinsey,
“Fashion on Climate” (2020)
UNEP
dan UN Economic Commission for Europe (UNECE)
European
Commission Waste Framework Directive untuk tekstil (2025)
Leave a comment
Your e-mail address won't be published. Required fields are mark *
