Fri11172017

Last update06:52:18 PM GMT

Back Public Relations

Public Relations

  • PDF

Seorang PR Harus Kreatif

  • PDF

Kreativitas memerlukan imaginasi yang perlu direnungkan, dipikirkan dan dihitung. Seorang public relations (PR) harus kreatif karena pekerjaan PR semakin luas dan menantang. Tugas utama PR yang memerlukan kreativitas, yaitu wrapping dan distribusi isu. Demikian pernyataan Ika Sastrosoebroto saat memberikan kuliah tamu di kelas Creative Communication (S2) dan Pengantar Public Relations (S1) Universitas Mercu Buana, 12 Oktober 2013.

Ika mengatakan,seorang PR bisa menggunakan pihak ketiga untuk melakukan kreatifitas pada kemasan dan kanal dsitribusi. Ia memberikan contoh krisis Mahkamah Konstitusi (MK) yang bisa menggunakan pihak ketiga untuk mengembalikan kepercayaan masyarakat terhadap lembaga yudikatif tersebut dalam kurun waktu tertentu. Contoh lain, mempromosikan program wisata dan MICE (meetings, incentives, conferencing, dan exhibitions) kota Manado yang dilakukan melalui pendekatan budaya,  komunikasi dan sosial.

Seorang PR harus mempunyai passion karena passion is the key. Seorang PR juga harus mempunyai kemampuan akan kesadaran etis,  berpikir etis, berperilaku etis, dan berkepemimpinan etis. Sebagai  praktisi PR yang handal, Ika menuliskan pengalamannya di buku “PR Tales” yang diterbitkan tahun 2013. Bahan presentasinya pada kuliah tamu di Magister Ilmu Komunikasi dan Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Mercu Buana dapat di unduh dengan melakukan member log in terlebih dahulu.

icon Creative Public Relations (2.58 MB)

icon The Passion of PR (1.39 MB)

Modul 1-7 Media Relations

  • PDF

Seorang praktisi public relations (PR) harus memahami cara bekerja sama dengan jurnalis. Ia harus mengetahui tujuan membangun dan membina hubungan dengan media, memperhatikan etika, dan terampil menulis untuk kebutuhan media. Modul 1-7 Media Relations membahas tentang pengertian media relations, prinsip kerja dengan media, keterkaitan kode etik PR dan pers, dan teknik menulis untuk media. Silahkan log in terlebih dahulu kemudian download modul-modul berikut ini.

icon Modul 1-Ruang Lingkup Media Relations-EB (164.67 kB)

icon Modul 2-Prinsip Kerja dengan Media-EB (171.96 kB)

icon Modul 3-Etika Hubungan PR dengan Pers-EB (175.78 kB)

icon Modul 4-5-Gaya Penulisan PR di Media-EB (198.2 kB)

icon Modul 6-7-Siaran Pers-EB (405.05 kB)

 

LSM, Public Relations & Social Marketing

  • PDF

Kunjungan Tim Komunikasi Borneo Orangutan Survival Foundation (BOSF) ke Sekolah Citra Alam, 19 April 2012.

Public relations (PR) di lembaga non-profit/lembaga swadaya masyarakat (LSM) memegang peranan penting untuk menyampaikan pesan dan mendapatkan perhatian masyarakat tentang berbagai isu kemasyarakatan dan lingkungan, seperti, kesejahteraan anak, perlindungan perempuan dari kekerasan, hak mendapatkan informasi publik, konservasi hutan, atau kelestarian satwa langka. Banyak LSM menggunakan praktik-praktik kehumasan yang canggih untuk memberikan kesadaran dan pengetahuan pada masyarakat, melobi pemerintah dan menggalang dana. Praktisi PR di LSM melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan oleh praktisi PR di lembaga profit. Walaupun mereka melakukan kegiatan pengumpulan dana dari masyarakat, namun LSM tidak menggunakan istilah MPR (Marketing Public Relations) yang biasa digunakan oleh organisasi profit. Ada istilah yang lebih sesuai dengan kegiatan pemasaran PR di LSM, yaitu social marketing. Kegiatan social marketing dapat diterapkan pada kegiatan promosi untuk mencapai perubahasan sosial, yaitu perubahan perilaku positif. Tulisan ini akan membahas bagaimana PR di LSM menggunakan praktik-praktik Humas dan social marketing untuk mendapatkan dukungan sosial dan dana, serta mencapai tujuan spesifik untuk kebaikan hidup masyarakat.

*Tulisan ini dimuat di buku "Corporate and Marketing Communication", 2011, Jakarta: Pusat Studi Komunikasi dan Bisnis Pascasarjana Universitas Mercu Buana.

Download: icon LSM-PR-Social Media-Emilia Bassar (324.3 kB)

Cyber PR Membuat Dunia Tanpa Batas

  • PDF

(Dokumentasi: DNPI)

Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi melalui internet membuat dunia tanpa batas. Penyebaran informasi melalui internet yang sangat luas dan dapat diakses oleh siapa saja dapat meningkatkan reputasi dan kredibilitas organisasi. banyak industri dan lembaga pemerintah yang memanfaatkan media internet sebagai sarana komunikasi, informasi dan edukasi. Salah satunya adalah Telkomsel dan Dewan Nasional Perubahan Iklim (DNPI).

VP Corporate Communication Telkomsel, Adita Irawati, pada kesempatan memberikan kuliah tamu di UI tanggal 10 Maret 2014, mengatakan bahwa perkembangan media sosial di Indonesia berkembang dengan pesat. Media sosial memberikan pengaruh terhadap praktek-praktek kerja komunikasi perusahaan, termasuk Telkomsel. Praktisi public relations (PR) harus dapat memanfaatkan media sosial untuk memberikan manfaat positif bagi kinerja perusahaan dan membangun brand perusahaan.

Adita menyampaikan hasil riset Nielsen tahun 2012 bahwa sumber informasi yang paling dipercaya adalah teman, kemudian situs resmi perusahaan, suara konsumen di internet, dan terakhir editorial. Responden lebih percaya dan mendengar perkataan temannya dibandingkan editorial, iklan atau siaran pers. Hal ini terlihat pada riset Nielsen yang menyatakan bahwa sumber informasi yang tidak mudah dipercaya responden adalah surat kabar, TV, iklan, dan press release.

Bergesernya praktik kerja PR yang cepat dari offline communication ke online communication juga disadari oleh Kepala Divisi Komunikasi, Informasi dan Edukasi (KIE) DNPI, Amanda Katili Niode. Saat mahasiswa Cyber PR UI berkunjung ke DNPI tanggal 24 Maret 2014, bu Amanda menyampaikan bahwa program dan kegiatan KIE DNPI mengintegrasikan kegiatan tatap muka dengan kegiatan online. Isu perubahan iklim tidak bisa hanya menggunakan komunikasi online, tapi juga kegiatan yang harus dilakukan secara tatap muka, seperti Youth Camp, workhsop dan Nobar (nonton bareng) film edukasi tentang perubahan iklim. Stakeholders DNPI sangat beragam, dengan tingkat pemerintahan yang berbeda, kelompok masyakarat yang banyak, dan isu perubahan iklim yang menyangkut kehidupan sosial, ekonomi, politik, kesehatan, dan lingkungan hidup. Untuk itu, kegiatan tatap muka dengan masyarakat dibutuhkan untuk berdialog langsung, membangun kesadaran dan mendapatkan dukungan dalam penanganan perubahan iklim di Indonesia. Kegiatan komunikasi yang menggunakan media sosial dimanfaatkan untuk mendapatkan respon melalui digital media dan menginformasikan lebih luas tentang kebijakan, program dan kegiatan DNPI.

Bahan presentasi Adita Irawati, Amanda Katili Niode dan bahan kuliah tatap muka kelima dapat diunduh dengan melakukan member log in terlebih dahulu.

icon 5-Membangun Online PR di Internet (2.41 MB)

icon Digital PR-Adita Irawati-100314 (11 MB)

icon DNPI Cyber Communication-240314 (5.09 MB)