Mon04242017

Last update06:52:18 PM GMT

Back Outreach Community Media Hak Berkomunikasi Warga Disalurkan Melalui Radio Komunitas

Hak Berkomunikasi Warga Disalurkan Melalui Radio Komunitas

  • PDF

Penulis: Emilia Bassar

Demokrasi yang tengah berlangsung di Indonesia mendorong dinamika gerakan masyarakat dan media komunitas, termasuk kelahiran dan perkembangan radio komunitas. Keberadaan radio komunitas yang dikelola oleh warga komunitas merupakan bagian dari strategi untuk menyuarakan kepentingan komunitas tersebut. Beragam isu lokal dalam konteks kultural disajikan melalui radio komunitas, seperti isu pendidikan, pemberdayaan masyarakat, pemilihan kepala desa, tata kelola pemerintahan yang baik (good governance), serta seni dan budaya lokal. Isu-isu tersebut menunjukkan bahwa radio komunitas dapat mendorong partisipasi komunitas, mendiskusikan masalah-masalah komunitas dan membangun transparansi di kalangan warga.

Pada tingkat nasional, pertumbuhan radio komunitas mendukung kebijakan penyiaran nasional melalui penyeimbangan sumber informasi yang diperlukan masyarakat lokal dalam proses demokrasi. Hal tersebut sesuai dengan tujuan pendirian radio komunitas untuk meningkatkan (peran) komunitas dalam sektor sosial, politik, budaya, dan ekonomi. Upaya itu tampak pada beberapa komunitas yang secara swadaya mendirikan dan mengoperasikan radio komunitas sebagai saluran komunikasi serta ekspresi kebebasan untuk berkomunikasi dan mendapatkan akses informasi dengan mudah sebagai hak warga negara. Semua kelompok masyarakat, termasuk kelompok perempuan, mempunyai hak berkomunikasi yang sama dalam proses demokrasi. Kelompok perempuan dapat mengkomunikasikan ide dan pikiran, membagi pengalaman dan mendorong perempuan lain untuk berpartisipasi dalam kegiatan komunitas.

Jaminan atas hak untuk berkomunikasi dan memiliki akses terhadap sarana komunikasi diakui di seluruh dunia sebagai hak asasi manusia. Salah satunya dipromosikan oleh Association of Community Radio Broadcasters (AMARC), sebuah organisasi internasional non-pemerintah untuk mendukung, mempromosikan dan mengembangkan radio komunitas di seluruh dunia. Dalam konferensi dunia ketujuh AMARC di Milan, Italia, 23-29 Agustus 1998 dihasilkan kesepakatan antara lain:

  1. hak untuk berkomunikasi adalah hak asasi manusia universal yang melayani dan mendasari semua hak asasi manusia lainnya dan yang harus dijaga dan diperluas dalam konteks perubahan teknologi informasi dan komunikasi yang terjadi dengan cepat;
  2. semua anggota masyarakat sipil harus memiliki akses yang adil dan merata ke semua media komunikasi;
  3. hak-hak masyarakat adat harus dihormati dalam perjuangan mereka untuk mendapatkan akses dan berpartisipasi dalam media komunikasi;
  4. partisipasi demokratis perempuan dalam media komunikasi harus dijamin di semua tingkat;
  5. media komunikasi memiliki tanggung jawab untuk membantu mempertahankan keragaman budaya dan bahasa dunia, yang harus didukung melalui langkah-langkah legislatif, administratif dan keuangan;
  6. masyarakat media dapat memainkan peran penting dalam memperkuat hak-hak budaya, dan khususnya, hak-hak bahasa dan budaya minoritas, masyarakat adat, para migran dan pengungsi dengan menyediakan akses ke sarana komunikasi;
  7. akses ke sarana komunikasi harus didukung oleh pendidikan dan pelatihan untuk membantu pemahaman kritis tentang media dan untuk memungkinkan orang untuk mengembangkan media dan keahlian berkomunikasi;
  8. ekonomi pasar bukan satu-satunya model untuk membentuk infrastruktur komunikasi. Orang harus dilihat sebagai produsen dan kontributor informasi dan tidak didefinisikan semata-mata sebagai 'konsumen' (Pavarala dan Malik, 2007:43-44).

Dalam praktiknya, radio komunitas di Indonesia memiliki beberapa fungsi, antara lain, untuk mempromosikan hak berkomunikasi, membantu anggota komunitas menyampaikan informasi dan pendapat secara bebas, mendorong anggota komunitas untuk berkontribusi dalam proses demokrasi, serta mempromosikan atau melestarikan budaya dan bahasa lokal. Hasil penelitian di Radio RAKITA FM (Kota Bandung), Radio Ruyuk FM (Kabupaten Tasikmalaya) dan Radio Arya FM (Kabupaten Indramayu) menunjukkan bahwa radio komunitas berfungsi sebagai media komunikasi antarwarga dalam berbagi informasi dan pengalaman dengan anggota komunitas lain. Selain itu, melalui radio komunitas setiap warga memiliki kesempatan mendapatkan akses informasi dan pengetahuan dengan mudah, bahkan mendorong warga untuk proaktif menyelesaikan masalah dalam komunitas secara mandiri. Contohnya terjadi pada warga Desa Mandalamekar yang membangun kesadaran warga melalui Radio Ruyuk FM untuk menanam pohon di hutan sekitar desa yang gundul. Radio Ruyuk FM menyebarkan informasi dan mengkomunikasikan fungsi hutan dalam melindungi sumber air.  Keberadaan kawasan hutan berhubungan erat dengan areal atau titik-titik sumber mata air dan sungai untuk memenuhi kebutuhan warga Desa Mandalamekar. Pengelola radio siaran Ruyuk FM mengajak warga ikut serta menanam pohon dan membersihkan hutan di sekitar desa. Gerakan menanam pohon itu membuahkan hasil berupa ketersediaan air bersih bagi rumah tangga dan kecukupan air bagi keperluan pengolahan lahan pertanian. Pada tahun 2010, lahan pertanian tidak lagi mengalami kekeringan seperti yang terjadi pada tahun-tahun sebelumnya.

Permasalahan kesehatan warga juga menjadi perhatian dalam siaran Radio Ruyuk FM dan Radio RAKITA FM. Radio Ruyuk FM mempunyai program siaran kesehatan  pengobatan herbal, sementara Radio RAKITA FM menyiarkan informasi kesehatan tentang HIV/AIDS[26] yang banyak diderita warga Kota Bandung. Radio RAKITA FM pun aktif menyebarluaskan informasi tentang narkoba yang banyak dikonsumsi pemuda dan pemudi di bawah usia 25 tahun.

Ketiga radio komunitas pada penelitian yang penulis lakukan sepanjang tahun 2010-2013 menyiarkan lagu-lagu lokal dan siaran seni budaya untuk melestarikan budaya lokal. Isi siaran, antara lain, pengenalan tokoh lokal, drama dan nyanyian lagu-lagu lokal. Contohnya, setiap hari Radio Arya FM menyiarkan lagu-lagu Tarling (gitar suling) yang merupakan kegemaran masyarakat Indramayu. Adapun Radio Ruyuk FM mempunyai program bahasa Sunda yang mengenalkan (kembali) penggunaan bahasa Sunda halus untuk digunakan (kembali) oleh kalangan muda.

Radio RAKITA FM, Radio Ruyuk FM dan Radio Arya FM memberikan kesempatan bagi pegiat perempuan untuk turut berpartisipasi aktif dalam kegiatan siaran radio. Tidak ada syarat khusus bagi kelompok perempuan untuk menjadi pegiat radio komunitas, bahkan beberapa pegiat perempuan menjadi penyiar utama dalam siaran radio tentang kesehatan dan budaya lokal. Kesempatan itu pun dimanfaatkan pegiat perempuan untuk menyiarkan isu-isu komunitas dari perspektif perempuan.

Berdasarkan beberapa temuan di atas, dapat dipahami bahwa radio komunitas yang didirikan di tiga lokasi penelitian menjadi saluran informasi dan komunikasi antarwarga mengenai permasalahan komunitas. Radio komunitas mendorong warga untuk menyelesaikan masalahnya secara mandiri dengan memberikan kesempatan bagi semua anggota komunitas, termasuk kelompok perempuan, berpartisipasi dan mendapatkan akses informasi dengan mudah di radio komunitas serta meningkatkan keterampilan dan pengetahuan mereka dalam pengelolaan dan produksi siaran radio.


[26] Hingga September 2012 estimasi penderita HIV/AIDS (ODHA) di Kota Bandung mencapai 3.871 orang. Penderita HIV yang telah ditemukan berjumlah sekitar 1.469 kasus dan AIDS sekitar 1.450 kasus, termasuk penjaja seks, ibu rumah tangga dan anak-anak (lihat http://www.bandung.go.id/?fa=berita.detail&id=1986, diakses 19 Juni 2013).



Add comment

You have no rights to add a new comment. May be you need to register on the site.