Sun05282017

Last update06:52:18 PM GMT

Back Outreach Community Media

Community Media

  • PDF

Indigenous Radio Komunitas Berbasis Lingkungan dan Budaya: Radio Ruyuk FM, Jawa Barat

  • PDF

Oleh: Emilia Bassar, Irwan Abdullah, Hermin Indah Wahyuni

Radio Ruyuk FM merupakan radio komunitas berbasis penghijauan dan budaya lokal yang menarik untuk dikaji secara mendalam karena keunikan dalam proses pendirian, program radio, keterlibatan perempuan maupun berbagai prestasi yang telah dicapainya. Kajian terhadap Radio Ruyuk FM menggunakan konsep radio komunitas dari, antara lain, Fraser dan Estrada (2001) dan Jankowski dan Prehn (2002). Kajian ini merupakan studi kasus deskriptif dengan menggunakan metode penelitian kualitatif dan dilaksanakan pada bulan Januari 2011-Juni 2012. Radio komunitas Ruyuk FM didirikan tahun 2007 di Desa Mandalamekar, Tasikmalaya, Jawa Barat, oleh para pegiat kelompok swadaya masyarakat Mitra Alam Munggaran (MAM). Keberadaan Radio Ruyuk FM mendorong kelompok komunitas, termasuk kelompok perempuan, untuk memproduksi dan membagi berbagai informasi tentang pelestarian hutan, budaya lokal, dan lingkungan masyarakat. Program utama Radio Ruyuk FM yang mengaksentuasikan pelestarian hutan telah mengembalikan kebersamaan warga Desa Mandalamekar dalam menangani dan mengelola sumber mata air di hutan. Upaya warga melestarikan hutan dan mengelola sumber mata air, mengantarkan Desa Mandalamekar mendapatkan penghargaan tingkat Kabupaten, Provinsi dan Internasional. Sedangkan pelestarian budaya lokal dilakukan melalui program seni, budaya dan bahasa Sunda.

Kata kunci: radio komunitas, pelestarian hutan, budaya Sunda, keterlibatan perempuan.

*Tulisan ini dimuat di Proceeding The 4th International Graduate Students Conference on Indonesia, Theme “Indigenous Communities and The Projects of Modernity”, 2012, Yogyakarta: The Graduate School UGM.

Download: icon Indigenous Rakom Berbasis Lingkungan & Budaya-Radio Ruyuk FM-Emilia Bassar dll (1.11 MB)

Perempuan & Radio Komunitas

  • PDF

Oleh: Emilia Bassar, Irwan Abdullah, Hermin Indah Wahyuni

Kajian ini menggambarkan keterlibatan kelompok perempuan pada pengelolaan dan produksi program radio komunitas. Kehadiran kelompok perempuan sebagai pengelola radio komunitas sangat dibutuhkan untuk mendorong radio komunitas menentukan kebijakan tentang materi penyiaran sesuai dengan kebutuhan dan aspirasi kelompok perempuan. Kemampuan manajemen dan keterampilan teknis pegiat perempuan di radio komunitas diharapkan dapat meningkatkan program siaran yang peka gender. Keterwakilan kelompok perempuan pun akan mewarnai program-program siaran yang berperspektif gender. Tampilan realitas keterlibatan kelompok perempuan di tiga radio komunitas—Radio RAKITA FM, Radio Ruyuk FM dan Radio Arya FM—diperoleh melalui wawancara mendalam, pengamatan di lapangan dan dokumentasi tertulis. Analisis keterlibatan perempuan pada radio komunitas akan dihubungkan ke dalam kehidupan sosial dan budaya pada masyarakat di kota, desa dan pesisir. Hasil kajian menunjukkan, komposisi pengelola perempuan pada Radio RAKITA FM, Radio Ruyuk FM dan Radio Arya FM sudah cukup baik, yaitu rata-rata 40%. Radio RAKITA FM dan Radio Ruyuk FM mempunyai program siaran yang mendukung kelompok perempuan dalam bidang keterampilan diri, kehidupan berkeluarga, kesehatan, dan motivasi diri. Sementara itu, Radio Arya FM banyak menyiarkan siaran hiburan dangdut Tarling (gitar suling). Beberapa isi siaran yang diasuh oleh penyiar perempuan juga berkaitan dengan hak-hak perempuan di rumah tangga dan masyarakat.

Kata kunci: radio komunitas, perempuan sebagai pengelola radio komunitas, perempuan dalam produksi program siaran radio komunitas.

*Tulisan ini dimuat di buku "Representasi, Komodifikasi, dan Diferensiasi: Kajian Budaya dan Perubahan Sosial di Indonesia", 2013, Yogyakarta: Kanisius.

Download: icon Perempuan & Rakom-Emilia Bassar dll (11.75 MB)

Enviromental and Cultural Based Indigenous Community Radio: Radio Ruyuk FM, West Java

  • PDF

By: Emilia Bassar, Irwan Abdullah, Hermin Indah Wahyuni

Ruyuk FM Radio is a radio community focusing on reforestation and local culture program. A comprehensive study of this radio is interesting because of the uniqueness in the process of its establishment, programs, involvement of women, and accomplishments. The study of Ruyuk FM Radio uses the concept of community radio, among others, by Fraser and Estrada (2001) and Jankowski and Prehn (2002). This study is a descriptive case study using qualitative research method and was implemented in January 2011-June 2012. Ruyuk FM Radio was established in 2007 in the Village of Mandalamekar, Tasikmalaya, West Java, by a group of non government organization’s activists Mitra Alam Munggaran (MAM). The presence of Ruyuk FM Radio encouraged community groups, including women's groups, to produce and share a variety of information on nature conservation, local culture, and society. The main program of Ruyuk FM Radio of promoting forest conservation has restored unity of Mandalamekar villagers in handling and managing water resources in the forest. Efforts by villagers to conserve forest and manage water sources, has officially been recognized and awarded at District, Provincial and International levels. Effort to preserve local culture was implemented through arts, culture and language programs.

Key words: community radio, forest conservation, Sundanese culture, women participation

*Tulisan ini dimuat di Proceeding The 4th International Graduate Students Conference on Indonesia, Theme “Indigenous Communities and The Projects of Modernity”, 2012, Yogyakarta: The Graduate School UGM.

Download: icon Enviromental & Cultural Based Indigenous Community Radio-Radio Ruyuk FM-Emilia Bassar et all (1.14 MB)